Gerakan Nasional Pendidikan Karakter yang secara intensif
telah dimulai sejak tahun 2010 sudah melahirkan sekolah-sekolah rintisan yang
mampu melaksanakan pembentukan karakter secara kontekstual sesuai dengan
potensi lingkungan setempat. Rencana Aksi Nasional Pendidikan Karakter 2010
juga memperoleh dukungan dari masyarakat madani dan Pemerintah Daerah.
Pemerintah menyadari bahwa Gerakan Nasional Revolusi Mental
yang memperkuat pendidikan karakter semestinya dilaksanakan oleh semua sekolah
di Indonesia, bukan saja terbatas pada sekolah-sekolah binaan, sehingga
peningkatan kualitas pendidikan yang adil dan merata dapat segera terjadi.
Penguatan Pendidikan Karakter di sekolah diharapkan dapat memperkuat bakat,
potensi dan talenta seluruh peserta didik.
Banyak satuan pendidikan telah melaksanakan praktik baik
(best practice) dalam penerapan pendidikan karakter. Dampak dari penerapan ini
adalah terjadi perubahan mendasar di dalam esosistem pendidikan dan proses
pembelajaran sehingga prestasi mereka pun juga meningkat. Program PPK ingin
memperkuat pembentukan karakter siswa yang selama ini sudah dilakukan di banyak
sekolah.
Dalam Rapat Koordinasi Penguatan Pendidikan Karakter (PPK)
yang diselenggarakan Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Jawa Barat pada tanggal
1 Februari 2018 dihadiri oleh Kepala Dinas Kabupaten/ Kota, Koordinator
Pengawas (SD, SMP, SMA, SMK), dan Kepala KCD se-Jawa Barat, kami memberikan
gambaran umum tentang praktik baik (best
practice) di SDN Unggulan Kabupaten Kuningan. Penerapan pendidikan karakter
melalui pembiasaan dengan kegiatan penumbuhan dan pembudayaan nilai-nilai
karakter yaitu yang disepakati oleh unsur yang ada di sekolah. Kerja sama dan
komitmen dari kepala sekolah, guru, dan orangtua umumnya menjadi menjadi faktor
kunci keberhasilan pelaksanaan pendidikan karakter di sekolah.
B.
Implementasi Best Practice Penguatan Pendidikan Karakter
(PPK)
Gerakan
Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) selain merupakan kelanjutan dan
kesinambungan dari Gerakan Nasional Pendidikan Karakter Bangsa Tahun 2010 juga
merupakan bagian integral Nawacita. Dalam hal ini butir 8 Nawacita: Revolusi
Karakter Bangsa dan Gerakan Revolusi Mental dalam pendidikan yang hendak
mendorong seluruh pemangku kepentingan untuk mengadakan perubahan paradigma,
yaitu perubahan pola pikir dan cara bertindak, dalam mengelola sekolah.
Implemntasi nilai-nilai penguatan pendidikan karakter yang dikembangkan
di SDN Unggulan ini berlaku universal, karena dapat digunakan oleh seluruh
siswa secara umum. Nilai-nilai tersebut terangkum dalam kristalisasi 5 nilai karakter, adapun penjelasannya adalah
sebagai berikut:
1. Religius
Nilai
karakter religius ini meliputi tiga dimensi relasi sekaligus, yaitu hubungan
individu dengan Tuhan, individu dengan sesama, dan individu dengan alam semesta (lingkungan). Nilai karakter
religius ini ditunjukkan dalam perilaku mencintai dan menjaga keutuhan
ciptaan. Subnilai religius antara lain cinta damai,
toleransi, menghargai perbedaan agama dan kepercayaan, teguh
pendirian, percaya diri, kerja sama antar pemeluk agama dan kepercayaan,
antibuli dan kekerasan, persahabatan, ketulusan, tidak memaksakan
kehendak, mencintai lingkungan, melindungi yang kecil dan tersisih.
2. Nasionalis
Nilai
karakter nasionalis merupakan cara berpikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian,
dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik,
sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa, menempatkan kepentingan
bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.
Subnilai
nasionalis antara lain apresiasi budaya bangsa sendiri, menjaga kekayaan budaya bangsa, rela berkorban,
unggul, dan berprestasi, cinta tanah air, menjaga
lingkungan, taat hukum, disiplin, menghormati keragaman budaya, suku,dan agama.
3. Mandiri
Nilai karakter mandiri merupakan sikap dan perilaku tidak bergantung pada orang lain dan mempergunakan
segala tenaga, pikiran, waktu untuk merealisasikan harapan, mimpi dan
cita-cita. Subnilai mandiri antara lain etos kerja (kerja
keras), tangguh tahan banting, daya juang, profesional, kreatif,
keberanian, dan menjadi pembelajar sepanjang hayat.
4. Gotong Royong
Nilai karakter gotong royong mencerminkan tindakan menghargai semangat kerja sama dan bahu membahu
menyelesaikan persoalan bersama, menjalin komunikasi dan persahabatan,
memberi bantuan/ pertolongan pada orang-orang yang membutuhkan. Subnilai gotong royong antara lain menghargai, kerja sama, inklusif, komitmen atas keputusan bersama,
musyawarah mufakat, tolongmenolong, solidaritas,
empati, anti diskriminasi, anti kekerasan, dan sikap kerelawanan.
5. Integritas
Nilai
karakter integritas merupakan nilai yang mendasari perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya
sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan,
tindakan, dan pekerjaan, memiliki komitmen dan kesetiaan pada nilai-nilai
kemanusiaan dan moral (integritas moral).
Kelima nilai utama karakter bukanlah nilai yang berdiri dan berkembang sendiri-sendiri melainkan nilai yang
berinteraksi satu sama lain, yang berkembang secara dinamis dan
membentuk keutuhan pribadi. Dari nilai utama manapun pendidikan
karakter dimulai, individu dan sekolah pertlu mengembangkan nilai-nilai
utama lainnya baik secara kontekstual maupun universal. Nilai religius sebagai
cerminan dari iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa diwujudkan
secara utuh dalam bentuk ibadah sesuai dengan agama dan keyakinan
masing-masing dan dalam bentuk kehidupan antarmanusia sebagai
kelompok, masyarakat, maupun bangsa. Dalam kehidupan sebagai
masyarakat dan bangsa, nilai-nilai religius dimaksud melandasi dan melebur di
dalam nilai-nilai utama nasionalisme, kemandirian, gotong royong, dan
integritas. Demikian pula jika nilai utama nasionalis dipakai sebagai titik awal
penanaman nilai-nilai karakter, nilai ini harus dikembangkan berdasarkan
nilai-nilai keimanandan ketakwaan yang tumbuh bersama nilai-nilai lainnya.
C. Penutup
Dari paparan
Best Practice yang ditampilkan dalam
Rapat Koordinasi Pengutan Pendidikan Karakter (PPK) di LPMP Jawa Barat,
selanjutnya dapat disimpulkan sebagai berikut: Dari paparan
Best Practice yang ditampilkan dalam
Rapat Koordinasi Pengutan Pendidikan Karakter (PPK) di LPMP Jawa Barat,
selanjutnya dapat disimpulkan sebagai berikut: 1) Penguatan
Pendidikan Karakter (PPK) merupakan satu rangkaian proses humanisasi yang
akhirnya akan melahirkan generasi yang berkarakter bentuk perwujudan nilai-nilai moral di dalam
kehidupan manusia; 2) Proses
pendidikan bukan semata penguasaan pengetahuan, keterampilan teknikal saja,
karena ini sekedar alat, atau perkakas. Tetapi proses pendidikan harus bertumpu
pada anak itu sendiri, untuk dapat berkembang mencapai sempurnanya hidup.
Karena buahnya pendidikan adalah matangnya jiwa anak, yang akan dapat
mewujudkan hidup dan penghidupan yang sempurna dan memberikan manfaat bagi
orang lain dan lingkungannya; 3) Dalam
perjalanannya, proses pendidikan harus berhadapan dengan arus globalisasi yang
membawa dampak positif maupun negative. Ekses globalisasi ini mempengaruhi gaya
hidup suatu bangsa, yang pada gilirannya dapat mereduksi,bahkan merusak harkat,
martabat dan jati diri bangsa; dan 4) Sebagai
upaya mempertahankan dan membangun harkat, martabat dan jati diri bangsa, perlu
digalakkan pendidikan karakter yang salah satunya dapat ditempuh melalui Penguatan
Pendidikan Karakter (PPK).


Karakter yang berkarakteristik
BalasHapusSalam PPK
Hapus